LA BUNUE BUKAN NANI WARTABONE


Dalam lontaraq/sureq bilang puatta tahun 1871 yg tersimpan di perpustakaan Inggris dengan kode ADD-12354/12356. Setelah bermukim sekian lama di Kerajaan Bone, La Bunue lalu kembali ke Sulawesi Tengah dengan bekal surat legitimasi dari Raja Bone, dan akhirnya menetap dan manjadi Raja Suwawa, di Gorontalo.
Di Bone kemudian La Bunue populer dengan nama gelaran yaitu Wartabone yang artinya “tuan kita dari Bone” atau disebut juga Berita = Warta, dari Bone, yaitu pembawa berita dari Bone untuk Kerajaan Tojo.

Surat Raja Bone tersebut yang terdiri dari 10 baris yang ditulis pada hari Jum’at 6 Zulqaidah tahun 1220 Hijriah atau setara 1806 Masehi dengan salinan alih-aksara ke latin dan terjemahannya adalah sebagai berikut ini.



LONTARA ASLI UNTUK LA BUNUE YANG BERJULUK WARTABONE ADA DISIMPAN DI BOLANO, LAMBUNU, KAB. PARIGI MOUTONG :



“Uwéréngngi ca’ La Bunué mukka’ uturunana nréwe’ ri wanuanna/ Napogau’i Ade’Abiasanna/ ri tanaé ri Boné/ Narékkuwa engka gau’ nasaléwe’/ nangkanaé Ca’ku-
Appatenning/ aja’ nari bawampawang rialempurenna/ nigi nigi bawampawangi tanaé tu ri Boné nagau’ bawang/ Narékkuwa maggéngké mupi / Nréwe’ ri wanuwanna La Bunué/ Saba’ élona Surona Boné paréwe’i/ Iyanatu mapping monroéri Tojo/ Enrengngé ri Yampana / Kuwaé topa ri Bokang/ Uélorang/ silaongngi/ Enrengngé/ messeriwi/ Namukka?passurona Boné/Silaong Arumpone/Nariuki sure’ éwé ri essona JUMAT é/ ri seppulona enneng ompona/ uleng Zulkaiddah/ ri 1220 hijerana SALLALLAHU ALIHI WASALLAM na taung Ha/ Naiya Mukiéngngi sure’éwé/ Passisié Arung Pasémpe’/ La Pakkanynyarang/ Namukka’ passurona”

Artinya :
(Saya memberi surat bercap pada La Bunué manakala Saya merestuinya pulang ke negerinya untuk menjalankan adat kebiasaannya di Tanah Bone/ Apabila ada perkara yang dihadapinya, maka Capku inilah yang dipegang agar dia tidak disanggah atas kejujurannya/ Barang siapa yang berbuat semena-mena terhadapnya, maka sama saja Ia menentang Bone/ Dia diberikan kekuasaan atas kembalinya ke negerinya dengan mandat sebagai Suro (utusan) Bone / Dialah yang kekal akan berkuasa raja di Tojo, di Yampana, dan Bokang/ Aku harapkan surat ini mengesahkan bahwa dirinya adalah utusan (Suro) Bone dan mewakili Raja Bone/ Surat ini ditulis pada hari JUMAT tangal 6 Dzulqaidah, tahun 1220 Hijriah Sallahu Alaihi Wasallam tahun Ha/ Adapun yang menulis surat ini adalah Arung Pasempe’ La Pakkanynyarang di atas Daulatku) .


Dan Karena membawa Lontara dari Kerajaan Bone maka La Bunue atau disebut juga La iboerahima dan populer dengan nama gelaran yaitu Wartabone yang artinya “pembawa surat dari Bone”. Surat Raja Bone tersebut yang terdiri dari 10 baris yang ditulis pada hari Jum’at 6 Zulqaidah tahun 1220 Hijriah atau setara 1806 Masehi.





★★★★

La BunuE BUKAN Nani Wartabone

★★★★







TIDAK BENAR ADA SURAT MENYURAT ANTARA NANI WARTABONE DI GORONTALO DENGAN PALU, DAN GORONTALO DENGAN PIHAK KERAJAAN TOJO, YANG ADA HANYALAH ISU MENGENAI GELAR DARI WARTABONE YANG ARTI DARI WARTABONE ADALAH PEMBAWA LONTARA DARI KERAJAAN BONE YANG HENDAK DI TIRU OLEH RAKYAT GORONTALO, DAN RAKYAT PALU, KARENA DARI SEJARAH YANG ASLI YAITU :




Sesuai pada daftar struktur kerajaan Bone, La Tenri Tappu menduduki singgasana ( amangkaukeng ) Kerajaan Bone antara tahun 1775 sampai 1812 dengan menempatkan istananya di Rompegading.
Data yang tersurat di dalam surat itu yang berkenaan dengan identitas La Bunue memiliki relevansi data pada manuscript lainnya yaitu Lontara Bilang atau Catatan Harian La Tenritappu sendiri yang terdapat di dalam dokumentasi British Library dalam kode Add 12365. Di dalam Lontara Bilang atau Catatan Hariannya itu, Raja Bone menuliskan bahwa ‘Arung La Bunue atau Raja La Bunue tiba Makassar dari perjalan jauhnya menempuh lautan mendaratkan perahunya di pelabuhan Makassar. La Bunue kemudian datang ke istana Bone Rompegading diantar oleh Syahbandar pelabuhan untuk menghadap langsung kepada La Tenri Tappu, Raja Bone.
(Senin 16 Maret 1781 M/ 20 Rabiul Awal 1195 H)

Sabennarae pate’i Arung  La Bunue/ Sitai’ ulaweng nawawangangnga’/ uwerengngi Ca’ mukka’ ulappessangenna eppona riasengnge I Cabakka/ Nappasabbia’ boena Batara Tungke’ ripawerekkengenna ri to Mabbicarae atongengenna ri 110 reala’na /

Artinya :
( Syahbandar datang mengantar Arung  La Bunue/ Satu tail emas ia serahkan kepadaku / Aku beri Cap setelah Saya membebaskan cucunya bernama I Cabakka/ Paman Batara Tungke’ mempersaksikan kepadaku setelah Hakim memberinya 110 real /)

(Sumber: British Library, kod. Add BL 12356).






PADA TAHUN 1790 MASEHI, LA BUNUE DENGAN MEMBAWA LONTARA DARI KERAJAAN BONE TIBA DI KERAJAAN TOJO






DARI SEJARAH KERAJAAN TOJO TAHUN 1778,
Setelah Wafatnya Pilewiti tahun 1778, karena Latondrong masih terlalu kecil untuk menjadi Raja, maka Talamoa kembali Ke Kerajaan Bone untuk mencari seorang raja karena Talamoa tidak mau menjadi Raja di Kerajaan Tojo, tetapi sampai saatnya tiba, Raja yang ditunggu-tunggu Talamoa tidak kunjung datang ke kerajaan tojo sehingga Talamoa bertindak seperti Raja Tojo, tetapi menurut laolita beberapa paranaka orang tojo, Talamoa saat itu adalah Raja Tojo dari tahun 1778 sampai 1790, dan pada tahun 1790 inilah utusan dari Raja Bone ke-23 La Tenri Tappu To Appaliweng (1775-1812) yang bernama La Bunue datang ke Kerajaan Tojo dan memperlihatkan Lontara dari Arumpone La tenri Tappu kepada Talamoa dan menurut Laolita yang beredar bahwa Raja yang dipilih Talamoa adalah Payulemba yang juga merupakan bangsawan dari Raja Bone, Payulemba yang juga seorang Andi (gelar bangsawan bugis) dan bisa jadi Payulemba inilah yang juga bernama La Bunue yang dengan bekal Lontara dari Bone dia menjadi Raja di Kerajaan Tojo sehingga La Bunue bergelar WARTABONE yaitu pembawa Lontara dari Kerajaan Bone, dan Payulemba atau disebut juga La Bunue memerintah di Kerajaan Tojo dari tahun 1790 sampai tahun 1794 dan kemudian sesuai permintaan Talamoa kepada Kerajaan Bone, setelah menjadi dewasa, Anak dari Pilewiti yaitu Latondrong menjadi Raja atau Jena di Tojo dari tahun 1795 sampai tahun 1815 yang kekuasaannya melanjutkan tugas dari Ayahnya yaitu Pilewiti yang meliputi wilayah dari Tinja Pata Sulapa yaitu dari sausu sampai tanjung pati-pati.







TAHUN 1907 LAHIRLAH NANI WARTABONE DI GORONTALO





Nani Wartabone lahir di Gorontalo pada 30 Januari 1907, dan tumbuh dalam lingkungan keluarga yang cukup berada. Ayahnya adalah Zakaria yang bekerja untuk pemerintah Belanda, sementara ibunya adalah seorang keturunan bangsawan di daerahnya.

Zakaria memberi nama anaknya dengan Nama Nani Wartabone karena pernah mendengar sejarah La Bunue yang bergelar Wartabone yang dengan berbekal Lontara dari Raja Bone, La Bunue mendapatkan kekuasaan yang setara Raja Bone, sehingga La Bunue yang juga Raja di Kerajaan Tojo tahun 1790 sampai 1794 diberi gelar Wartabone oleh masyarakat suku bare’e dan paranaka tojo (orang tojo asli yang memiliki percampuran darah antara suku bare’e dengan suku-suku lain).


Meskipun ayah dari Nani Wartabone bekerja untuk pemerintah Belanda, sejak kecil Nani memiliki sentimen yang buruk kepada pemerintah kolonial. Ia pernah membebaskan tahanan orangtuanya, sebab ia tak sampai hati melihat rakyat kecil dihukum. Bahkan, ia tak betah bersekolah karena pengajar – pengajarnya yang berkebangsaan Belanda tersebut sering merendahkan bangsa Indonesia. diam – diam, Nani menanam sikap antipati terhadap penjajah.

Perjuangannya dalam merebut kemerdekaan Indonesia dimulai ketika ia terlibat dalam pendirian organisasi kepemudaan Jong Gorontalo pada tahun 1923 di Surabaya. Nani terlibat dalam kepengurusan dan menuduki posisi sekretaris di Jong Gorontalo. Di Gorontalo, ia bersama rakyat berjuang melawan tentara Belanda, bergerak sekuat tenaga untuk mengusir kaum penjajah. Puncaknya adalah ketika mereka berhasil menangkap Kepala Jawatan Tentara Belanda di Gorontalo pada saat itu. Lewat kejadian itu, bumi Gorontalo kemudian terbebas dari pendudukan Belanda.


Selesai dari penangkapan Kepala Jawatan Tentara Belanda tersebut, Nani Wartabone memimpin upacara pengibaran Bendera Merah Putih yang diiringi oleh nyanyian Indonesia Raya. Pernyataan kemerdekaan berlangsung di bumi Gorontalo.



Di tahun yang sama yaitu tahun 1941, di Kerajaan Tojo, Raja Tojo Tandjumbulu mendapatkan laporan bahwa Belanda telah kalah oleh Jepang, sehingga Tandjumbulu ingin segera menguasai kota poso yang telah diduduki Belanda agar kembali menjadi Wilayah Kerajaan Tojo, tetapi usaha Raja Tojo Tandjumbulu tidak berhasil dan pada tahun 1942, Tandjumbulu pergi mengungsi ke Gorontalo karena hendak ditangkap oleh Belanda dan mempercayakan kepada anak mantunya yang merupakan bangsawan kaili yaitu Raja Gunu Datupamusu untuk menjaga istana Raja tojo di  Ampana, sampai disini belum diketahui apakah Tandjumbulu dan Nani Wartabone pernah bertemu di Gorontalo.


Kembali lagi pada sejarah Nani Wartabone, Ternyata perjuangan belum selesai, sebab setelah itu datanglah pasukan tentara Jepang yang kemudian melarang berkibarnya bendera Indonesia di Gorontalo pada 6 Juni 1942. Nani tidak tinggal diam. Ia memimpin pergerakan melawan penjajahan Jepang. Sayang, pada 30 Desember 1943 ia ditangkap dan diasingkan ke Manado.


Nani baru dilepaskan oleh tentara Jepang pada 6 Juni 1945, setelah Jepang mencium tanda – tanda kekalahan mereka dari Sekutu. Setelah pembebasannya, pihak Jepang masih mengagumi dan mengakuinya sebagai pemimpin masyarakat Gorontalo. Hal itu ditunjukkan dengan penyerahan pemerintahan Gorontalo dari pemerintah Jepang kepada Nani Wartabone pada 16 Agustus 1945, satu hari sebelum proklamasi kemerdekaan secara nasional. Sejak saat itu, merah putih berkibar kembali di tanah Gorontalo.
Berkat jasanya besarnya, Nani Wartabone dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 10 November 2003 silam oleh Presiden Indonesia saat itu, Megawati Soeakrnoputri.





JADI NANI WARTABONE BUKANLAH LA BUNUE YANG BERGELAR WARTABONE, TETAPI NANI WARTABONE HANYA DIBERINAMA WARTABONE KARENA AYAHANDANYA PERNAH MENDENGAR SEJARAH DARI LA BUNUE YANG BERGELAR WARTABONE YANG DENGAN BERBEKAL LONTARA DARI BONE, LA BUNUE MENDAPATKAN KEKUASAAN YANG SETARA DENGAN RAJA BONE.

Komentar